A. PERUMUSAN MASALAH
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan bertitik tolak pada gejala-gejala pengamatan. proses ini berjalan secara induktif, dengan mengamati sejumlah gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. konsep bersifat abstrak.
Konsep berada dalam bidang logika (teoritis), sedangkan gejala berada dalam dunia empiris (faktual). Memberikan konsep pada gejala itulah yang disebut dengan konseptualisasi. Konsep bersifat abstrak dan dibentuk dengan menggene-realisasikan hal-hal yang khusus. Babbie mengatakannya sebagai the process through which we specify precisely what we mean when we use particular terms (proses dengan mana kita member nama yang khusus secara tepat yang menggambarkan apa yang kita maksudkan).
Proses ini diawali dengan mengungkapkan permasalahan penelitian, latar belakangnya, perumusannya, dan signifikansinya. Masalah sebagai kesenjangan yang ada di antara kenyataan dan harapan perlu dirumuskan secara eksplisit. Masalah tersebut dapat ditangkap dari keluhan-keluhan yang ada dalam lingkungan sosial yang bersangkutan. Gejala-gejala khusus dari masalah ini diungkapkan secara jelas, untuk kemudian konsepnya dirumuskan secara operasional. Akhirnya, perlu juga diungkapkan mengapa masalah itu penting untuk diteliti, baik dari segi akademis maupun dari segi praktis. Dari segi kepentingan akademis, suatu penelitian bisa mengukuhkan teori yang ada, atau menyangkalnya, atau merevisinya. Sedangkan kepentingan praktis berhubungan dengan pentingnya penelitian itu dalam pengembangan program atau pekerjaan tertentu.
Konseptualisasi penelitian tidak hanya merumuskan masalah, tetapi juga mengungkapkan cara-cara tentang bagaimana masalah tersebut diteliti. Dengan demikian terdapat dua masalah pokok yang akan dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian itu, yaitu penjelasan tentang subtansi yang diteliti (aspek subtantif), dan penjelasan tentang khusus dalam penelitian (research design). Suatu masalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek empiris dan aspek logis atau rasional. Suatu peristiwa bisa disebut masalah jika terdapat kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya, antara kenyataan yang ada dan apa yang diharapkan. Dilihat dari apa yang diharapkan itu, masalah dapat dikelompokkan ke dalam 3 kategori, yaitu:
1. masalah filosofis,
2. masalah kebijakan, dan
3. masalah ilmiah.
Suatu masalah dapat dikatakan masalah filosofis jika gejala-gejala empirisnya tidak sesuai dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat. Gejala-gejala hubungan seks sebelum nikah di kalangan remaja termasuk dalam kategori ini, karena nilai-nilai yang berlaku di kalangan remaja itu tidak sesuai dengan norma-norma keagamaan yang dianut oleh masyarakat.
Masalah yang tergolong dalam masalah kebijakan adalah perilaku-perilaku atau kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh si pembuat kebijakan. Bantuan Inpres IDT yang tidak mencapai sasaran, kualitas pendidikan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan, adalah contoh-contoh yang termasuk dalam kategori ini.
Masalah yang tergolong dalam kategori masalah ilmiah adalah kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan. Salah satu teori dalam ilmu pendidikan yang dikenal dengan “teori hukuman” mengatakan bahwa hukuman yang diberikan kepada anak akan perilakunya ke arah positif. Tetapi dalam kenyataannya, anak-anak yang diberi hukuman itu perilakunya justru semakin mengarah pada hal-hal yang negatif, bahkan hukuman itu menanamkan dendam kepada gurunya. Masalah seperti ini termasuk masalah ilmiah.
Masalah sosial menampakkan diri pada conflict issue yang dapat ditangkap dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat. Isu-isu seperti itu dapat ditangkap melalui pengamatan langsung, atau dari
B. Variabel
Sebelumnya telah disebutkan bahwa konseptualisasi adalah proses memberi konsep pada gejala-gejala yang dipermasalahkan. Konsep bersifat abstrak, tetapi menunjuk pada objek-objek tertentu yang konkret. Objek yang konkret itu bersifat individual, yang berbeda satu dengan yang lain. Jika kita mengamati orang-orang yang kita jumpai, maka tidak ada dua orang yang sama persis di antara mereka. Setiap orang berbeda dengan yang lain. Sifat dari objek-objek yang yang berbeda-beda itu adalah:
1. Mempunyai ciri umum yang sama, yang membuat mereka mirip satu sama lain, sehingga semuanya dapat ditampung dalam satu definisi.
2. Setiap objek berbeda, masing-masing mempinyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan objek lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat objek-objek itu bervariasi, karena disebut variabel.
3. Perbedaan-perbedaan pada setiap objek terletak pada ukuran masing-masing, baik ukuran yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Karena ukuran yang berbeda-beda itulah maka konsep disebut variabel, seperti yang dikatakan oleh Kerlinger, variables is a property that takes on different values….A variable is a symbol which numerals or values are assigned.”1
Suatu konsep disebut variabel jika ia menampakkan variasi pada objek-objek yang ditunjuknya. Jadi, konsep bukan variabel yang tidak tampak pada variasi pada objek-objek itu.
Di antara konsep yang abstrak dan objek-objek individual yang konkret terdapat suatu penghubung yang menunjukkan objek-objek yang dapat dimasukkan ke dalam konsep yang bersangkutan. Konsep “mahasiswa,” contohnya. Siapa saja yang dapat digolongkan ke dalam konsep ini? Apakah si A yang belajar di SMU yang temasuk dalam konsep ini, atau si B yang bekerja di sebuah kantor, atau si C yang mengajar di sebuah SD? Kita membutuhkan suatu petunjuk untuk dapat melakukan tugas tersebut. Misalnya, orang yang telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di suatu perguruan Tinggi yang dapat diketahui siapa yang dimaksud dengan mahasiswa. Dalam hal ini kartu mahasiswa itu disebut indikator empiris terhadap konsep mahasiswa.
Indikator empiris ini sifatnya dapat diamati. Suatu indikator empiris belum tentu dapat menunjukkan seluruh makna yang terkandung dalam konsep tertentu. Misalnya, “sepeda” dengan indikatornya adalah “kendaraan roda dua.” Tetapi, bukanlah ada juga sepeda roda tiga, dan ada juga kendaraan roda dua yang bukan yang bukan sepeda? Jadi, indikator tersebut belum tentu seluruhnya menangkap konsep “sepeda”. Oleh karena itu, suatu konsep bisa memiliki lebih dari satu indikator empiris.
Dengan indikator empiris itu kita merumuskan variabel secara operasional. Definisi operasional dirumuskan sedemikian rupa sehingga ia bisa berfungsi sebagai petunjuk untuk menemukan data yang tepat dalam dunia empiris. Misalnya kita melihat empat buah bilangan, yaitu 2,4,6, dan 8. Sekarang kita rumuskan dalam satu istilah keempat bilangan itu? Kalau disimpulkan bahwa keempat bilangan itu adalah bilangan genap dengan definisi bilangan yang dibagi habis dua, maka apakah dengan definisi tersebut dapat kita temukan kembali keempat bilangan itu? Contoh lain: 4, 6 , 10, 18, 20. Semua bilangan ini adalah bilangan genap jadi memenuhi definisi tadi. Tetapi, bilangan yang kita lihat tadi bukanlah 4, 6, 10, 18, dan 20, melainkan 2, 4, 6, dan 8. Berarti definisi kita itu tidak benar.
Memang keempat bilangan itu adalah bilangan genap, tetapi tidak semua bilangan genap tersebut termasuk dalam pengamatan kita. Perhatikan kembali konseptualisasi dari Babbie: “…the process through which we specify precisely what we mean when we use particular terms. “Merumuskan istilah yang tepat, tidak berkelebihan dan tidak berkurangan. Definisi bilangan genap pada bilangan di atas adalah definisi yang berkelebihan, tidak tepat. Defenisi yang tepat untuk pengamatan 2, 4, 6, dan 8 adalah “kelipatan dua di bawah 10.” Dengan definisi ini, maka tidak ada yang lain kecuali 2, 4, 6, dan 8. Bukan 2, 4, 10, dan 12, karena ada bilangan yang tidak memenuhi definisi.
Definisi operasional suatu variabel tidak boleh dirumuskan dalam bentuk sinonim. Kalau definisi variabel kerajinan belajar dirumuskan sebagai “kerajinan belajar adalah ketekunan siswa untuk mempelajari bahan pelajaran,” maka di sini tedapat dua istilah yang setara, yaitu kerajinan dan ketekunan. Seharusnya istilah ketekunan berfungsi sebagai penjelas bagi kerajinan, karena itu seharusnya ia bukan konsep, tetapi indikator. Namun, dalam definisi ini ketekunan adalah konsep, sama dengan kerajinan yang juga adalah konsep. Jadi, ketekunan sinonim dengan kerajinan.
Istilah kerajinan harus diterangkan dengan indikator. Ciri indikator adalah teramati dan terukur. Dengan menggunakan indikator tersebut, kita merumuskan variabel kerajinan belajar sebagai berikut: “Kerajinan belajar mahasiswa adalah banyaknya waktu yang diukur dalam jam per minggu yang dipergunakan oleh mahasiswa untuk membaca bahan-bahan yang relevan dengan program studinya.” Di sini kegiatan membaca adalah indikator, dan jumlah jam adalah pemgukuran. Tampak bahwa definisi operasional terhadap vaiabel atau konsep ini berbeda dengan definisi yang kita temukan dalam buku teks atau dalam kamus. Definisi dalam buku-buku teks atau kamus itu disebut definisi konstitutif atau definisi nominal. Untuk melihat perbedaan di antara kedua bentuk definisi itu, perhatikan definisi dari konsep-konsep berikut.
| Konsep | Definisi Nominal | Definisi Operasional |
| Motivasi | Motivasi adalah kekuatan dorongan dalam yang ada pada diri seseorang untuk bertindak dengan cara-cara tertentu.2 | Motivasi adalah derajat kesungguhan kerja pada seseorang anggota dalam suatu organisasi.3 |
| Kenakalan remaja | Setiap orang yang berumur antara 7 dan 16 sampai 18 yang melanggar ketentuan, peraturan, atau undang-undang. | Setiap orang yang dijatuhi putusan oleh pengadilan sebagai pelaku kenakalan remaja Atau: Setiap orang yang berusia 7 sampai 18 tahun yang dalam daftar diri menyatakan bahwa ia telah melakukan satu atau lebih tindak dalam tercantum dalam daftar itu. |
| Kepuasan kerja | Perasaan-perasaan positif seseorang pekerja mengenai pekerjaannya. | Dengan |
1. Variabel Dependen dan Variabel Independen
Variabel dependen disebut juga variable tidak bebas, dan variabel independen disebut variabel bebas. Suatu variabel disebut dependen atau tidak bebas jika nilai atau harganya ditentukan oleh satu atau beberapa variabel lain. Dalam hubungan ini variabel ini disebut variabel independen atuau variabel bebas.
2. Variabel Kontinu dan Variabel Deskrit
Kedua jenis variabel ini berbeda dalam cara peng-ukurannya. Variabel kontinu dapat diukur dengan bilangan kontinu, sedangkan variabel deskrit hanya bisa diukur dengan bilangan deskrit. Variabel-variabel berat, panjang, dan umur termasuk variabel kontinu karena dapat diukur dengan bilangan bulat seperti 1, 2, 4, dan seterusnya.
C. Skala Pengukuran
Selain bisa diamati, sifat kedua dari indikator empiris adalah dapat diukur pada skala tertentu. Pengukuran itu paling sedikit bertujuan untuk membedakan yang satu dengan yang lain, misalnya bahwa yang satu lebih besar atau lebih kecil daripada yang lain, bahwa yang satu itu 10 kg dan yang lain itu 8 kg. Untuk melakukan tugas pengukuran dibutuhkan alat, dan pada alat itu terdapat skala yang dapat diterapkan pada setiap objek yang akan diukur. Alat yang ukur yang dipakai untuk mengukur objek haruslah konsisten sehingga hasilnya dapat dipercaya. Selain itu alat ukur yang diukur haruslah valid.
Dengan syarat-syarat seperti ini maka pengukuran adalah suatu proses pemberian angka pada objek dalam skala tertentu. Mengukur suatu variabel dapat dilakukan pada salah satu dari 4 skala pengukuran, yaitu (1) skala nominal, (2) skala ordinal, (3) skala interval, dan (4) skala ratio.
1. Skala Nominal
Skala nominal ini dapat diterapkan pada setiap variabel karena skala ini berfungsi untuk membedakan. Setiap objek pada variabel yang diukur adalah setatar, namun berbeda satu dengan yang lain. Status seks adalah suatu variabel yang apabila diterapkan pada setiap objek maka ada dua macam jenis seks yang mempunyai derajat yang sama, yaitu laki-laki dan perempuan. Membedakan antara laki-laki dan perempuan adalah skala nominal. Tolok ukur yang dipakai untuk mengukurnya adalah indikator empiris dari variabel yang bersangkutan. Untuk itu disediakan dua angka, yaitu angka 1 untuk laki-laki, dan 2 untuk perempuan, atau sebalikya 1 untuk perempuan dan 2 untuk laki-laki. Angka ini tidak menunjukkan bahwa 2 lebih besar daripada 1, atau 1 lebih utama dari 2. Angka 1 dan 2 hanyalah simbol untuk membedakan dua hal yang sama. Contoh-contoh ini menjelaskan ciri-ciri dari skala nominal, yaitu (1) bersifat deskriminatif (membedakan), (2) bersifat ekualitas dalam arti bahwa angka 1 dapat ditukar dengan angka 2, dan (4) pengategoriannya bersifat tuntas.
2. Skala Ordinal
Seperti halnya skala nominal, skala ordinal juga menunjukkan perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori yang lainnya. Namun, perbedaan itu bukan perbedaan yang setatar, tetapi perbedaan jenjang atau tingkat. Kalau variabelnya adalah “status ekonomi,” maka kategori-kategorinya adalah: (1) kelas ekonomi lemah, diberi angka 3. Angka 1, 2, dan 3 bukan membedakan hal yang sama, tetapi perbedaan jenjang. Bahwa 1 = 2 = 3 adalah tidak benar, tetapi bahwa 1<> 2 > 1 adalah benar. Selisih antara 3 dan 2 tidak selalu sama dengan selisih antara 2 dan 1. Oleh karena itu, bilangan-bilangan itu tidak bisa dijumlahkan atau dikurangkan.
3. Skala Interval
Skala pengukuran ini menunjukkan pula perbedaan seperti pada skala nominal dan skala ordinal. Perbedaannya adalah bahwa interval antara 1 dan 2, antara 2 dan 3, dan seterusnya adalah sama. Misalnya, variabel “umur” yang dapat diukur dalam tahun. Kalau dalam objek pengamatan kita ada yang berumur 21 tahun, ada yang 22 tahun, ada yang 23 tahun, dan seterusnya, maka perbedaan antara 22 dan 23. Karena itu, terhadap bilangan-bilangan itu dapat dialkukan pekerjaan penambahan atau pengurangan. Ciri lain dari skala ini adalah titik nolnya bersifat arbitrer. Umur ayah dan umur anaknya diukur dari titik nol yang berbeda, yaitu pada tahun kelahiran masing-masing. Karena sifatnya yang demikian ini maka angka-angka ini tidak multiplier.
4. Skala Ratio
Skala ini sama dengan skala interval, kecuali bahwa titik nolnya bersifat mutlak. Berat yang diukur dengan gram mempunyai titik nol yang sama di mana saja dan kapan saja. Karena itu sifatnya multiplier.
Dilihat dari segi kehalusan pengukuran, skala ratio adalah yang paling tinggi, disusul dengan skala interval, kemudian skala ordinal, dan yang terakhir skala nominal. Akan tetapi, pada umumnya, skala nominal tidak bisa diubah pada skala ordinal, skala ordinal tidak bisa diubah pada skala interval, dan skala interval tidak bisa diubah pada skala ratio.
Catatan:
1. Kerlinger, Fred N. 1973. Foundation of Behavioral Research.
2. Bandingkan Yelon, Stephen L. et al. 1997. A Theachers World Psychology in Classroom.
3. Price, James L. 1972. Handbook of Organizational Measurement.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar